![]() |
| ILUSTRASI. Hoaks |
SULBAR AMANAH INDONESIA, MAMUJU — Di tengah upaya masyarakat mencari informasi pascagempa magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah, ancaman lain mulai bermunculan di media sosial: foto dan video yang belum terverifikasi, termasuk konten visual hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada berbagai gambar dan video yang beredar setelah gempa terjadi. Pasalnya, sejumlah konten yang viral justru dipastikan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo SP) Sulawesi Barat, Muhammad Ridwan Djafar, mengatakan masyarakat perlu lebih berhati-hati sebelum membagikan informasi yang diterima melalui media sosial maupun aplikasi percakapan.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak langsung mempercayai ataupun menyebarkan foto dan video pascagempa yang sumbernya tidak jelas," kata Ridwan.
Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan membuat pembuatan gambar dan video palsu menjadi semakin mudah. Jika tidak disikapi secara kritis, konten semacam itu berpotensi memicu kepanikan dan memperburuk situasi di tengah masyarakat.
Foto Kerusakan yang Viral Ternyata Tidak Benar
Salah satu contoh yang sempat beredar luas adalah gambar Tugu Bundaran Smart Pasangkayu yang terlihat roboh dan diklaim sebagai dampak gempa yang berpusat di Sulawesi Tengah.
Namun setelah dilakukan pengecekan, informasi tersebut dipastikan tidak benar.
Hingga Selasa sore, pemerintah daerah belum menerima laporan resmi mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa di Kabupaten Mamuju akibat gempa yang terjadi di wilayah Palu.
Gambar yang beredar diduga merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau rekayasa digital lainnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bencana alam kini tidak hanya diikuti oleh ancaman fisik, tetapi juga gelombang disinformasi yang dapat memperbesar kecemasan masyarakat.
Verifikasi Informasi Jadi Kunci
Ridwan meminta masyarakat hanya mengacu pada informasi yang berasal dari sumber resmi seperti BMKG, BPBD, pemerintah daerah, maupun media yang memiliki kredibilitas.
Menurutnya, kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting di era digital ketika siapa pun dapat membuat dan menyebarkan konten dalam hitungan detik.
"Pastikan terlebih dahulu kebenarannya melalui kanal resmi pemerintah, BMKG, maupun media terpercaya. Jangan sampai informasi yang belum terverifikasi justru menimbulkan keresahan," ujarnya.
Ia juga mengajak insan pers, pegiat media sosial, dan masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak dalam penyebaran hoaks visual.
BPBD Minta Warga Tetap Tenang
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah, mengimbau masyarakat tetap tenang meskipun getaran gempa sempat dirasakan di sejumlah wilayah Sulbar, termasuk Kabupaten Mamuju.
Menurutnya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan tanpa harus panik.
Warga juga diminta terus memantau informasi melalui kanal resmi pemerintah serta mengikuti arahan petugas apabila terjadi situasi darurat.
Untuk kebutuhan informasi kebencanaan, BPBD Sulbar membuka layanan melalui Pusdalops BPBD yang dapat dihubungi melalui WhatsApp di nomor 0822-2050-0117.
Bencana dan Hoaks Sering Datang Bersamaan
Pengalaman berbagai bencana sebelumnya menunjukkan bahwa penyebaran informasi palsu sering meningkat ketika masyarakat sedang mencari kabar terbaru mengenai suatu peristiwa.
Kondisi ini dimanfaatkan sebagian pihak untuk menyebarkan konten sensasional demi mengejar perhatian dan interaksi di media sosial.
Karena itu, kewaspadaan terhadap hoaks kini menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan bencana.
Saat gempa, banjir, atau bencana lainnya terjadi, informasi yang akurat sama pentingnya dengan bantuan darurat. Sebab kepanikan yang dipicu kabar palsu dapat menimbulkan dampak sosial yang tidak kalah besar dibanding bencana itu sendiri. (*)

